Informasi

Diatur Potensi Unggulan Kayu Gaharu

Diatur Potensi Unggulan Kayu Gaharu

 

Para pimpinan SKPD sedang menjelaskan target penerimaan dan realisasi penerimaan sebagaimana tampak dalam gambar / Foto Sergi

ASMAT – Salah satu warga Asmat mencermati rapat evaluasi target penerimaan dan realisasi penerimaan per 31 Maret 2017 yang diselenggarakan Pemda Asmat  di Aula Ja Asamanam Ap Camar, Jum’at (7/4) lalu menegaskan, Pemda Asmat seharusnya selain mendorong penerimaan lewat SKPD-SKPD. Pemda Asmat juga mengatur aset unggulan Kayu Gaharu.

 

“Saya terus terang dengar dengan seksama jalannya rapat tadi. Saya heran. Saya tidak mendengar dari setiap SKPD membahas bagaimana mengatur potensi unggulan Kabupaten Asmat,  Kayu gaharu sebagai salah satu aset yang bisa mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sebagai salah satu aset penerimaan daerah. Potensi pendapatan kayu gaharu itu miliaran rupiah. Yang menikmati selama ini hanya para mafia sebagaimana yang pernah saya baca dari pernyataan Wakil Ketua DPRP Propinsi Papua, Edoardus Kaize,” katanya sambil meminta namanya di rahasiakan, di luar Aula Ja Asamanam Ap Camar, Jum’at (7/4) lalu.

 

Menurutnya, Pemda Asmat dan DPRD Asmat segera duduk dalam satu meja membahas soal potensi unggulan Kayu Gaharu yang hanya dinikmati para mafia. 

 

Karena, Pemda Asmat selama ini tidak mendapat apa-apa. Malah, Pemda Asmat menuai buta aksara, karena pendidikan tidak berjalan. Masyarakat membawa anak-anak ke hutan. Kesehatan tidak berjalan, karena masyarakat pula berada di hutan. 

 

“Warga sangat senang dengan upaya keras Bupati dan Wakil Bupati mendorong peningkatan pendidikan dan kesehatan serta sektor-sektor lainnya. Hanya masalahnya,  masalah kayu gaharu yang berdampak luas terhadap pendidikan dan kesehatan belum diatur sebagaimana mestinya. Memang, saya akui Bupati dan Wakil Bupati tidak bisa urus semua. Bupati dan Wakil Bupati cukup genjot SKPD yang berkaitan langsung dengan masalah itu. Bila perlu dicemeti sedikit. Terutama anggota DPRD yang hanya menang nama hilang belanja itu diajak menggunakan hak inisiatif mereka membuat Perda   mengatur potensi unggulan Asmat, kayu gaharu,” katanya.

 

Sumber itu juga mengacung jempol terhadap perjuangan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Halasson F. Sinurat, S.STP,M.Si. “Saya terpukul dan terharu dengan pernyataan Frans Sinurat. Orang yang tidak sudi sepeser uangnya memberi kontribusi terhadap Kabupaten Asmat. 

 

Berarti, dia tidak bisa memberi kontribusi terhadap pembangunan Asmat. Saya setuju dan acung jempol. Seharusnya kata-kata itu muncul dari anak-anak Papua, apa lagi, anak - anak Asmat. Tetapi itu muncul dari Frans Sinurat. Saya benar-benar terharu.  Dia punya hati nurani untuk membangun Asmat. Kami butuh orang seperti itu di Asmat,” katanya. 

 

Dia mengakui pula sependapat dengan Kepala BPKAD soal sektor primadona kedua di Kabupaten Asmat dari retribusi pengutan kapal-kapal yang merapat disetiap Dermaga di Asmat. “Itu betul sektor primadona kedua dari kapal-kapal. Hanya apakah selama ini, Pemda Asmat melalui Dinas Perhubungan jujur memberikan data jumlah kapal yang merapat setiap hari, minggu, bulan dan tahun. Pema Asmat harus pasang mata-mata di Dinas Perhubungan. 

 

Karena, saya sangat sangsi. Pendapatan dari sektor itu nilainya hanya sedikit, kalau saya tidak salah mendengar laporan dari Dishub,” katanya. (Sapa)

Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat