Informasi

Feature : Melirik Ladang Persemaian Manusia Cerdas di Asmat

Feature : Melirik Ladang Persemaian Manusia Cerdas di Asmat

 

Tampak Kadis Asmat, Donatus Tamot, S.Pd, M.Pd  Foto bersama sebagian dari 83 orang anak Asrama SD dan SMP satu atap di Sawa Er Distrik Sawa Erma Kab.Asmat

“Sekolah satu atap dan asrama satu atap ini. Lahir dari tekad untuk melakukan apa yang benar, bukan apa yang sedang populer saat itu. Kami berpikir kala itu, ini ibarat ladang persemaian mempersiapkan manusia cerdas 20 tahun mendatang di Asmat.  Kalaupun ada hambatan sekarang, kami sudah perkirakan dari sejak awal pasti ada rintangan dan ada hambatan. Itu biasa! Belajar dari ilmu air. Air yang tidak mengalir akan segera menjadi genangan. Sama halnya dengan kehidupan manusia; untuk bisa terus bergerak, diperlukan kesediaan untuk meninggalkan daerah yang aman dan nyaman, dan belajar untuk merasa aman di tempat yang penuh resiko,” petuah Kepala Dinas Pendidikan Asmat, Donatus Tamot, S.Pd, M.Pd didampingi Pastor Paulus W, Pr, Kepala Sekolah SMP Satu Atap Sawa Er, Drs. Yakobus Siga dalam rapat bersama guru-guru SD Satu Atap dan SMP Satu Atap, di Ruangan Guru SMP Satu Atap Sawa Er, Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat, Rabu (3/5) sore. 

 

Driver Speadboat berkekuatan mesin 85 PK milik Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat, Arsyad meliuk-meliuk di Kali Pomats menghantar Kepala Dinas Penididikan Asmat, Donatus Tamot, S.Pd, M.Pd dan wartawan Salam Papua, Fidelis Sergius Jeminta  menuju ke ladang persemaian manusia cerdas di Asmat, Rabu (3/5) siang.   

 

Dari Pelabuhan Fery Asmat sampai Ladang persemaian manusia cerdas Asmat yang lebih keren dinamai Asrama Satu Atap dan Sekolah Satu Atap membutuhkan waktu satu jam 45 menit. Cukup jauh. Membutuhkan energi menahan sengatan terik mentari dan daya tahan tubuh menahan hempasan angin. Meskipun begitu. Kita pasti terpesona menykasikan keindahan di singgasana alam semesta. Kita mendapat sapaan dari riak-riak ombak jenaka mengelus speedboat.  Menikmati  pohon nipah dan bintanggur  bak disentuh tangan manusia  tumbuh rapih disekitar tepi kiri-kanan Kali Pomats.  Dedaunan nipah dan bintanggur menjulur menyentuh permukaan Kali Pomats, seolah-olah sedang menyapa dan melambaikan tangan bagi siapapun yang melintasi daerah itu, menyegarkan jiwa.  Sehingga, kita tidak merasa sudah tiba di Ladang Persemaian manusia cerdas  Asmat yang dihiasi panorama alam yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, kecuali tiga kata “Indah, Indah sekali!”

 

Lokasi ladang persemaian manusia cerdas Asmat itu tidak kalah indah diselimuti hutan yang masih asli. Sunyi. Walau, lumayan jauh melintasi ribuan papan dan rumah panggung penduduk setempat,  bertiang kayu besi,  beratap rumbia berjejer kiri-kanan jalan jembatan dari tempat speadboat   berlabuh. 

 

Di pintu masuk area sekolah berdiri kokoh sebuah bangunan bergaya arsitektur Jew (rumah bujang Asmat) bertiang ukiran Asmat menghiasi latar depan bangunan itu.  Di area tengah asrama itu terlihat dihiasi beberapa tungku api.

 

Simbol-simbol tungku api itu mengingatkan penghuninya sama persis hidup di rumah dan kampung halaman sendiri. Atau lebih jauh, penghuninya diwarisi  hidup dalam spirit budaya Asmat. Bangunan rumah boleh berbeda, tetapi semangat hidup dipupuk dan disirami semangat kultur Asmat. Luar biasa! 

 

Pancaran bangunan indah yang disentuh tangan-tangan pemahat ulung Asmat terdapat tiga kosa kata “Asrama Satu Atap”.  Penghuninya 83 orang anak usia sekolah SD dan SMP. Anak-anak itu berlarian menghampiri Kepala Dinas Pendidikan Asmat didampingi Rektor Asrama Pastor. Paulus W, Pr berjabatan tangan sambil memperkenalkan nama mereka. “Saya dari Akat. Saya dari Pantai Kasuari. Saya dari Tomor. Saya dari Mumugu,” begitu mereka memperkenalkan nama dan asal mereka kepada Donatus Tamot.

 

83 orang anak yang diasuh seorang Pastor sebagai Rektor Asrama bernaung didalam Asrama satu atap. Mereka datang dari berbagai rumpun suku di wilayah Kabupaten Asmat yang terdiri dari rumpun suku Kenok, Unir Sirau, Bismam, Joerat, Simai dan Kaigar. Makan, minum, pakaian, dan kebutuhan sekolah anak-anak itu di biayai sepenuhnya Pemda Asmat. Termasuk kesejahteraan para guru. Pengelolaan Asrama dan manajemen sekolah diberi wewenang penuh kepada Keuskupan Agats. Pemda Asmat dan Keuskupan Agats rupanya sudah senafas serta seia sekata Asrama Satu Atap dan SD, SMP Satu Atap sebagai ladang persemaian manusia cerdas Asmat.  

 

Mewujudkan cita-cita itu, tepat dipintu masuk Asrama Satu Atap terpampang sebuah papan berwarna putih dihiasi kertas bertuliskan jadwal tugas sehari-hari dan sebuah kertas berisi beberapa point tentang aturan dan kedisiplinan hidup bagi penghuninya. Mulai dari jam bangun pagi, berdoa, makan pagi, sekolah, makan siang, bermain, berolah raga, belajar melukis, belajar malam, makan malam, berdoa malam hingga istirahat. Semua serba teratur. 

 

Dasar wartawan mendengar sesuatu yang berbeda pasti berjuang dengan cara apa pun harus tiba di tempat yang unik menjadi sumber berita.  “Saya merasa bangga bisa ke tempat itu. Meski, saya harus menggunakan diplomasi tinggi atas nama memantau UNBKP SMP.  Kepala Dinas Pendidikan pun merasa senang, kehadiran wartawan bisa terjadi simbiosis mutualisme.” 

 

Sejenak, Tamot memotivasi anak-anak yang duduk di SMP bisa melindungi dan berbagi perhatian dan kasih yang kepada anak-anak SD. “Bapa harap kaka-kaka yang SMP lindungi adik-adik yang masih SD, ya. Tidak boleh bertengkar atapun berkelahi. Saya senang ternyata kamu semua bisa hidup bersama  dari rumpun suku yang berbeda. Bagaimana bisa toh,” tuturnya lembut disahuti anak-anak itu serempak:”Bisa!”

 

Ia mengisahkan masa kecilnya. “Bapa juga bisa seperti ini. Karena bapa juga dulu waktu SD, SMP, SMA dan tamat dari Perguruan tinggi selalu hidup di Asrama. Jadi kamu juga harus bisa hidup dalam asrama. Dan gantungkan cita-cita setinggi langit. Jadi dokter, pilot, bupati atau Gubernur. Bisa!,” tuturnya memotivasi seraya meminta anak-anak itu foto bersama.

 

Dari Asrama Kepala Dinas menyaksikan dari dekat keindahan SMP Satu Atap Sawa Er yang dihiasi hutan yang masih asri. Jaraknya kurang lebih antara asrama dan sekolah satu kilo meter lebih melintasi ruas jalan  jembatan papan. Suasananya sunyi dan sepi. Alunan kidung burung-burung dan jengkrik terdengar jelas dari balik hutan dan pohon menemani hari-hari anak-anak SD dan SMP Satu Atap di sekolah itu.  

 

Guru-guru yang mengasuh anak-anak itu berasal dari beragam suku dan disiplin ilmu dari seluruh wilayah Indonesia menyatu dengan beberapa guru asli Asmat. Dari raut wajah mereka dalam rapat bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan Asmat tidak terlintas ekspresi bahasa tubuh mengeluh dan putus asa. Meski terbersit dalam permohonan mereka membutuhkan perhatian penuh Pemda Asmat tentang makan minum dan kesejahteraan anak-anak asrama satu atap serta  hak-hak  mereka sebagai tenaga pengajar.

 

Menyikapi hal itu, Tamot menyebutkan, Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos dan Wakil Bupati, Thomas Eppe Safanpo, ST sangat konsen memikirkan sekolah dan asrama satu atap ini. Karena sekolah dan asrama ini ibarat ladang persemaian manusia cerdas Asmat 20 tahun mendatang.  Ini seiring dengan Visi dan Misi Bupati dan Wakil Bupati Asmat. Kalaupun ada keterlambatan penyaluran dana membiayai asrama dan hak-hak guru,  itu semata-mata, karena masalah prosedur dan administrasi. 

 

“Saya harus berterus terang ini keterlambatannya di Dinas Pendidikan dan masalah administrasi. Karena, pengelolaan keuangan sekarang sangat ketat. Saya percaya mimpi Bupati dan Wakil Bupati Asmat akan terjawab dari tempat ini,” katanya disahuti tepuk tangan meriah guru-guru dan Rektor asrama. 

 

Ladang persemaian orang-orang cerdas di Asmat sangat membutuhkan tenaga pengajar yang memiliki terang di dalam dirinya tidak akan tersesat, sekalipun kegelapan mendekat, dan menemukan arah jalan menuju hari baru yang gilang gemilang. Jika anda percaya bagian dari sejarah membuka tabir buta aksara di negri ini. Anda  bagian dari orang-orang terhormat dan pewaris keteguhan hati dan karakter mulia dalam sejarah masa depan Asmat. (Sergie)

 
Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat