Informasi

Lima Rumpun Suku Minta Pemekaran Kabupaten Asmat

Lima Rumpun Suku Minta Pemekaran Kabupaten Asmat

Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos  kiri dan kanan Ketua DPRD Kabupaten Asmat , Yusak Bokowi serta para pejabat sebelum diberkati secara khusus para pendeta dan gembala umat

 

 

ASMAT - Lima rumpun suku yang berdiam dibagian arah selatan Kabupaten Asmat menyambut Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos, Profesor Agustinus Yonatan Fatem dan Ketua DPRD Kabupaten Asmat, Yusak Bokowi, S.Sos dan rombongan dengan aspirasi pemekaran Kabupaten Asmat.

 

“Saya  bangga anak  Bupati, Profesor dan Ketua DPRD Asmat adalah anak kandung dari  lima rumpun suku yang tersebar di wilayah Safaan. Kami minta segera dan memperjuangkan Pemekaran Kabupaten Asmat. Seluruh warga lima rumpun suku disini siap berdiri dibelakang mewujudkan hadirnya Kabupaten Safan berjuang bersama-sama,” kata  tokoh adat merangkap  Sekretaris Kampung Hainam  mewakili lima rumpun suku, Gabriel Yot, Ketua GPDI Kabupaten Asmat, Pdt. Asyer Bahakap mewakili tokoh agama disaksikan ribuan warga masyarakat  saat  menyambut rombongan Bupati Asmat, di Bandar Udara Kamur, Sabtu (11-2).   

 

Menurut Pdt. Asyer Bahakap lima rumpun suku yang menyampaikan aspirasi pemekaran Kabupaten Asmat itu, antara lain, rumpun suku Asmat yang berada diantara perbatasan rumpun suku Bismam, rumpun suku Sawi, Rumpun suku Kaigar, Rumpun suku Atakem disekitar rumpun suku Sawi dan rumpun suku Awyu.

 

Dari rekaman media ini, Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos dan Profesor Yonataen Fatem dan rombongan baru turun dari pesawat dan menginjakan kaki di Bandar Udara Kamur. Warga menyambut  dengan prosesi adat dan menyampaikan aspirasi pemekaran Kabupaten Asmat. Terlihat perwakilan tokoh adat, Gabriel Yot, Pdt. Asyer Bahakap sambil membawa busur  didampingi dua orang mama paruh baya, Ruth Wiyar dan Keme Kwaito  membawa sarung adat dan topi kebesaran adat kelima rumpun suku itu. Mereka merapat ke Bupati dan Profesor Agustinus Yonatan Fatem. Busur disarungkan ke badan Bupati dan Profesor Fatem. Disusul keduanya dikenakan sarung adat dan topi kebesaran adat Safaan. Tidak lama berselang, tali busur diputuskan dan dilanjutkan dengan prosesi adat melahirkan anak seorang anak.   Profesor Agustinus Yonatan Fatem terlihat merangkak dibawah selangkang kaki mama, Ruth Wiyar   dan Bupati Asmat rencananya merangkak dibawah selangkang kaki mama, Keme Kwaito. Namun, Ia mengatakan: “Mama saya sudah menjalani prosesi ini waktu lalu. Saya sudah.,” tuturnya.

 

Setelah itu, rombongan Bupati Asmat diarak-arak dengan tarian khas warga setempat menuju halaman Kantor Bandar Udara Kamur. Dan ia menyikapi aspirasi lima rumpun suku itu dengan berjanji bersama-sama memperjuangkan untuk mewujudkan kehadiran Kabupaten Safan. 

 

“Kita berjuang bersama-sama. Ketika kita semua bersatu dan warga semua kuat berdoa untuk mewujudkan pemekaran itu pasti terjadi. Saya datang kali ini dengan Profesor Agustinus Yonatan Fatem dari UNCEN. Nanti beliau dan rekan-rekannya akan meninjau secara akademik. Itu tugas Profesor dari sisi akademik,” katanya disambut tepuk tangan meriah ribuan warga masyarakat.

 

Profesor Agustinus Yonatan Fatem mengucapkan terima kasih atas prosesi adat yang dipersembahkan kepada dirinya. “Saya ucapkan terima kasih. Karena saya diakui sebagai anak dengan prosesi adat merangkak di bawah selangkang kami mama tadi. Sebagai tanda saya adalah anak dari tanah. Maka, tugas saya sebagai anak dari tanah ini akan berusaha membuat kajian secara akademik. Apakah harapan dan aspirasi dari bapa ibu semua memenuhi syarat. Hasil kajian itu akan diserahkan kepada Bupati Asmat untuk memperjuangkan harapan bapa ibu,” katanya. 

 

Menjawab media ini, Pdt. Asyer Bahakap menyampaikan dalam sejarah masa lalu busur dan anak panah itu alat yang digunakan untuk berperang dan mengayau. Busur dikenakan pada Bupati dan Profesor lalu diputuskan. “Itu pratanda sejarah masa lalu diputuskan dan menerima Injil sebagai fondasi dan pedoman hidup kristiani. Kalau dikaitkan dengan perjuangan pemekaran prosesi adat tadi. Itu tanda bahwa kami percaya sepenuhnya Bupati dan anak Profesor Agus bisa mewujudkan harapan  lima rumpun suku tadi. Sedangkan prosesi merangkak dibawah selangkang kaki ibu sebagai tanda professor Agus lahir dari rahim seorang ibu dari suku Sawi. Secara adat, dia adalah anak Safan,” ujarnya. (Sapa)

Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat