Informasi

Manuver Perahu Pukau Pengunjung Pesta Budaya Asmat

Manuver Perahu Pukau Pengunjung Pesta Budaya Asmat

PESTA BUDAYA- Atraksi manuver perahu di Pesta Budaya Asmat Mujiono/SP

ASMAT I Berbagai pertunjukan ditampilkan dalam Pesta Budaya Asmat ke 32 tahun 2017. Salah satunya adalah atraksi perahu yang mempertontonkan manuver perahu oleh masyarakat dari Kampung Pripis, Distrik Betsbamu, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (21/10/17).

Pada pelaksanaan pesta perahu atau bahasa Asmatnya cicum pokbu, pada Jumat (20/10/17) malam hari, sekitar pukul 24.00 Wit, masyarakat Kampung Pripis yang terdiri dari para laki-laki, memasukkan lima buah perahu ke dalam lapangan. Selanjutnya, perahu-perahu tersebut ditutup dengan menggunakan daun-daun kelapa. Setelah ditutup daun-daun kelapa, masyarakat menabuh tifa selama semalam suntuk.

 

Selanjutnya, pada pagi hari perahu-perahu beserta tuan perahu yang ditunjuk dilarung ke sungai yang selanjutnya melakukan manuver perahu.

 

Masyarakat Kampung Pripis pada manuver perahu di Kali Aswet memperagakan beberapa gerakan, seperti mendayung perahu secara sejajar, membentuk formasi pertahanan dan penyerangan,serta melaju dengan cepat. Setelah melakukan manuver, perahu-perahu tersebut dikembalikan ke lapangan.

 

Manuver-manuver perahu yang diperagakan oleh masyarakat membuat decak kagum para tamu undangan dan masyarakat Asmat yang menonton di pinggiran dermaga Pelabuhan Ferry dan Pelabuhan Besar. .

 

Selain masyarakat dan tamu undangan, Bupati Asmat, Elisa Kambu pun tidak melepaskan manuver perahu. Dimana Bupati Elisa dengan menggunakan speedboat langsung melihat manuver perahu dari dekat dan memberikan semangat kepada para masyarakat Kampung Pripis yang melakukan manuver perahu. Lebih meriah lagi tim dari My Trip My Adventure (MTMA) juga ikut dalam manuver perahu.

 

Pesta Perahu ini menceritakan masyarakat di salah satu kampong hendak berperang dengan kampong lainnya. Sebelum pelaksanaan perang, masing-masing kampong membuat perahu yang dikerjakan selama tiga bulan.

 

Pembuatan perahu sendiri dilaksanakan di dalam hutan secara tertutup. Sehingga tidak ada yang mengetahui, baik pemilik perahu maupun personel yang akan berperang. Hal ini dikarenakan pada saat pembuatan perahu, ada doa-doa dan ritual yang dilakukan, dengan tujuan meminta perlindungan kepada para leluhur, agar bisa memenangkan peperangan. Dan pada pembuatan perahu, masyarakat memukul tifa secara bertalu-talu semalam suntuk dengan tujuan menghibur para pembuat perahu.

 

Setelah perahu itu selesai, masyarakat mengangkat perahu dan tua perahu untuk dibawa ke sungai. Di atas perahu, pendayung melakukan tari-tarian adat untuk memberikan semangat dalam peperangan. Selanjutnya, selesai perang, masyarakat pun kembali ke kampung dengan membawa kemenangan. Kemenangan inilah yang diungkapkan dengan pesta perahu atau cicum pokbu.

 

Sementara pada Pesta Budaya Asmat, proses tersebut dipersingkat. Namun tidak menghilangkan prosesi adat yang sebenarnya. Mulai dari pembuatan perahu, penutupan perahu, penabuhan tifa, pengangkatan perahu dan pendayung sampai pada proses manuver perahu.

 

“Pada Pesta Budaya Asmat ini, kami lakukan singkat. Tapi tetap mengacu pada prosesi ataupun sejarah terjadinya pesta perahu,” kata Kepala Kampung, Albertus Sirij.

 

Pesta Perahu ini merupakan warisan leluhur yang diturunkan sampai anak cucu. Karenanya pada Pesta Budaya Asmatini dilakukan, agar bisa melestarikan warisan leluhur kita sampa kapan pun.

 

“Dengan mempertunjukkan pesta perahu pada Pesta Budaya Asmat ini, agar masyarakat dan anak cucu kita tahu. Sehingga warisan budaya ini tidak sirna dan ditelan oleh waktu,” ungkapnya. (seputarpapua.com)

Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat