Informasi

Pemabuk di Distrik Atj Kabupaten Asmat Berhasil Berantas Miras

Pemabuk  di Distrik Atj Kabupaten Asmat Berhasil Berantas Miras

Ilustrasi

 

ASMAT - Pembina kelompok penyakit sosial di Distrik Atj, Kabupaten Asmat yang juga Pastor Paroki Gereja St. Paulus Atj, Medardus Eko Budi Setiawan OSC  mengaku bangga dengan anak-anak pecandu Minuman Keras (Miras) bertobat dan  membentuk kelompok pemberantas Miras di Distrik Atj, Kabupaten Asmat. 

 

“Saya bangga, walau masih ada yang mabuk, paling tidak hasil pendekatan para kelompok pemabuk yang bertobat ini sudah mulai ada hasil nyata. Warga masyarakat dan anak-anak remaja mulai menurunkan botol-botol dari pohon-pohon kelapa, menyerahkan pisau iris segero kepada Gereja.  Warga masyarakat Atj juga sudah banyak menyampaikan terima kasih kepada kelompok tersebut. Warga senang pemabuk di Atj sudah menurun drastis. Itu hasil dari kerja para kelompok pemabuk yang bertobat,” katanya berapi-api.

 

Dikatakannya proses awal kelompok pemabuk memberantas Miras, perjudian, pemabuk, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Asusila dengan mengundang dan mengumpulkan tua-tua adat, Ketua Wayir (pemangku adat dalam Jew), Kepala Kampung, Linmas, Guru-guru dan tokoh-tokoh agama berkumpul bersama Tripika. Hasilnya, semua sepakat lima penyakit sosial itu menjadi gerakan bersama untuk hidup tertib bermasyarakat.

 

Pada pertemuan kedua, ia menyebutkan  mengumpulkan kelompok besar dan melahirkan kelompok partisipatif dari kalangan ketua-ketua lingkungan. 

 

Kelompok inilah yang memulai mendata semua warga yang sering mabuk. Mereka didampingi dan diarahkan ke usaha Manajemen Rumah Tangga (MRT). Dari sanalah tumbuhnya kesadaran, warga masyarakat dan anak-anak pecandu mulai terlibat dan bersedia menjadi kekuatan penggerak utama. “Saya mengamati, ini sangat menarik. Dan saya mulai mendampingi mereka dengan pendekatan kasih. Hasilnya, mereka berjanji menjadi kekuatan penentu dalam memberantas lima penyakit sosial itu. Semua rata-rata pemabuk dan mereka bergerak hingga saat ini tercatat 80 orang yang bertobat. Dari 80 orang itu, mereka memilih 40 orang menjadi penggerak utama,” jelasnya.

 

Menjawab media ini soal keberhasian mendampingi pencandu penyakit sosial itu, ia menyebutkan, jawabannya hanya satu pendekatan kasih. “Kasih bisa merubah segalanya. Saya sampai terharu dari 40 orang itu memberikan simbol pertobatannya. Ada yang memberi ayam, pisau iris segero, jerigen penadah segero, dan boto-botol yang bergelatungan disetiap pohon kelapa nyaris tidak ada lagi. Jadi saya berterima kasih kepada kelompok penggerak 40 orang itu. Saya sedang berpikir bagaimana mendampingi mereka membangun MRT,” jawabnya.(Sapa)   

 
Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat