Informasi

Features : Harga Kesetiaan Guru Menuai Maut dan Air Mata

 Features : Harga Kesetiaan Guru Menuai Maut dan Air Mata 

 

Almarhum Stefanus Sumarno / Foto Istimewa

 

“SAYA sudah ingatkan dan berteriak pa guru… balik …, awan hitam! Ia hanya menjawab: “sudah biasa!” sambil melambaikan tangan kepada saya dan melajukan longboadnya berlayar menuju ke SD Inpres Semendoro, Distrik Safan dari Pelabuhan Fery Agats, Senin (27/3) pagi itu,” tutur Fredianus Bostakai seorang bocah kelas III SMP YPPK St. Yohanes Pemandi Agats yang mengaku sebagai anak angkat korban longboad tenggelam antara Santambor dan Kairin, Stefanus Sumarno sambil memeluk adik angkatnya yang selamat dari maut itu, Theodorus Dwi Ari Sandi (12) erat-erat sambil bergumaam: “Adik saya sudah bilang bapa balik, dia tidak hiraukan teriakan saya.”

 

Dua orang bocah yang saling memeluk kasih tanpa batas itu tampak tiada mampu menahan kesedihan mendalam kehilangan ayah mereka, Stefanus Sumarno (47) tahun. Dua insan yang mempertontonkan pemandangan yang sangat menarik. Satu berkulit putih terang dan yang satu berambut ikal berkulit hitam. Perbedaan warna kulit tidak membatasi mereka bersenyawa dalam ikatan kasih abadi dan sejiwa dalam satu rasa kepedihan kehilangan ayah yang tidak pernah akan kembali. 

 

“Adik! Bapa terlalu setia dengan tugasnya. Dia tidak berpikir keluarga sendiri. Ada mama di Merauke, kakak Lisa, Santi dan adik Sandi, untung adik Sandi selamat,” tutur Ferdi panggilan akrab Fredianus Bostakai sambil memeluk adik angkatnya Sandi dan sesekali mengusap air matanya, kepada media ini, di kediaman Ny. Dorce Wallong, Rabu (29/3) malam.

 

Bostakai mengaku ia salah satu dari lima orang anak angkat dari korban tenggelam longboad, Stefanus Sumarno seraya menyebutkan satu persatu rekannya yang diasuh Sumarno. 

 

“Saya diangkat dari sejak umur lima tahun hingga Kelas III SMP YPPK St. Yohanes Pemandi Agats. Kakak saya perempuan ada bersama mama sekolah di Merauke, Santi Bostakai. Sixtus Kusi kelas II SMP St. Yohanes Pemandi Agats, Eko Bostakai dan Yuvensius Kusi masih sekalah SD di Semendoro. Anak kandung bapa itu hanya dua orang, kaka Elisabet dan Sandi ini,” akunya sambil mengelus rambut adiknya dan sesekali ia mencium Sandi. 

 

Menjawab media ini, Bostakai menuturkan, warga Asmat biasanya kalau terlihat ada tanda awan hitam pekat tidak boleh keluar dan berlayar. Disetiap muara dan laut pasti ombak mengamuk. 

 

“Itu tanda yang sudah orang tua kami ceriterakan turun-temurun. Tetapi bapa itu selalu melawan alam. Dia sudah lima kali kecelakaan dengan longboad. Dua tahun lalu, dia tiga hari di lautan baru ditemukan dalam keadaan hidup. Biasanya, dia tidak bisa meninggalkan jam pelajaran berhari-hari. Kalau sampai tinggalkan anak Semendoro seminggu saja. Dia gelisah. Bayangkan! Dia menjemput adik Sandi di Merauke hanya semalam dengan mama dan kakak Lisa. Lalu pulang lagi ke Agats. Istirahat sehari di Agats langsung Senin kemarin menuju ke Semendoro menemui ajalnya,” tutur Bostakai. 

 

Dari berbagai data yang dihimpun media ini, Stefanus Sumarno salah satu sosok guru yang sangat setia dengan tugasnya. Ia meregang nyawa bersama rekan gurunya, Bernad Akamor (50), Lilis Setyawati (23) dan tiga orang anak dari Bernad Akamor, yaitu Sony (3) tahun, Yola (1) tahun dan Margi (6) tahun. Dan satu anak dari Bernad Akamor lagi, Ego (2) tahun, dikabarkan sudah ditemukan, Rabu (29/3) dan langsung di makam oleh warga sekitar pesisir. 

 

Sedang yang selamat dari maut itu, istri Bernard Akamor, Katarina Sarauw (37) dan dua orang buah kasihnya, Maya (8) tahun dan Yana (9) tahun serta anak laki-laki semata wayang almarhum Stefanus Sumarno, Theodorus Dwi Ari Sandi (12) tahun. Sumarno mulai mengajar pertama di di SD Inpres Airo 1994. Lalu, dia mendapat SK baru pindah ke SD Inpres Semendoro 2008 hingga sekarang. Dan sempat ia bertugas hanya enam bulan di salah satu SD di Pulau tiga, Asmat. 

 

Masyarakat kampung Semendoro mendatangi Dinas Pendidikan meminta Stefanus Sumarno kembali mengajar di SDI Semendoro. Berdasarkan permintaan masyarakat itu, Stefanus Sumarno kembali bertugas di Semendoro hingga menemui ajalnya, Senin (27/3) di antara perairan Santambor dan Kairin, Distrik Safan, Kabupaten Asmat.

 

“Orang ini sangat setia dengan tugasnya. Kami sangat sulit menemukan sosok seorang guru yang betah bertugas di daerah pedalaman Asmat, seperti Stef. Kami sudah berkali-kali melarang kalau laut tidak bersahabat jangan mencoba berlayar,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Asmat, Drs. Jakobus Gedu disela-sela menjaga jenazah Stefanus Sumarno, di Mes Guru-guru SD Dinas Pendidikan Asmat, Rabu (29/3) malam. 

 

Salah satu guru SMPN Kamur, Distrik Panti Kasuari, Agus Sugiono mengisahkan, Stefanus Sumarno itu tipe orang lemah lembut, tetapi ia sangat tegas dalam mengambil keputusan. “Saya ini rekan karibnya. Dia sangat lemah lembut, tetapi tegas. A, A dan B,B. Lalu, dia sangat setia dengan tugasnya. Bapak lihat warga dari kampung Semendoro dan Airo di pelabuhan Fery tadi. Mereka menyabut jenazah Stef dengan air mata. Di Kampung Semendoro dan Airo sana. Masyarakat semua sudah pasti mandi lumpur berkabung mengenang jasa baik mas Stefanus,” tutur Agus Sugiono, di Kediaman Ny. Dorce Rabu (29/3) malam. 

 

Isak tangis warga Kampung Semendoro dan Airo di Pelabuhan Ferry Asmat, Rabu (29/3) sore memecah menyambut Jenazah Stefanus Sumarno. “Pa guru e….e…, siapa lagi yang betah mengajar di kampung kami o….o,” teriak dan tangis warga asli Asmat itu mengiringi jenazah Stefanus Sumarno menuju RSUD Asmat.

 

Menurut kerabat dekatnya Daud Sumarji yang kini bertugas di salah satu SDI di Kampung Kaipom, Distrik Kopay, Kabupaten Asmat, sosok Stefanus Sumarno tidak hanya bertanggung jawab penuh dalam tugas. Ia juga sosok guru teladan yang sangat setia dan disiplin dalam bertugas. 

 

“Saya heran. Kami baru saja sama-sama dari Merauke dengan KM Luser kemarin. Dia menjemput anaknya Sandi di Merauke dan hanya semalam dengan keluarga di Merauke. Saya kaget tiba-tiba dengar dia kecelakaan dengan longboad. Itu berarti dia hanya semalam di Kota Agats langsung menuju ke tempat tugas. Ya, dia memang sangat setia dengan tugasnya. Tetapi dia tidak pernah takut dengan alam disni yang sangat tidak bersahabat. Saya selalu mengingatkan dia. Kalau berangkat ke tempat tugas hafal benar dengan situasi ombak. Karena, dia ini sudah lima kali terbalik dengan longboad dan kejadian ke enam ini sudah tidak bisa selamat,” tuturnya.

 

Stefanus Sumarno kata Daud Sumarji meninggalkan seorang Istri tercinta, Yolanda dan dua anak kandungnya, Elisabet (17) kelas III SMA di Merauke dan Theodorus Dwi Ari Sandi (12) kelas VI SD di SDI Semendoro dan lima orang anak angkatnya dari Kampung Semendoro, Santi Bostakai sekolah di Merauke, Fredianus Bostakai kelas III SMP St. Yohanes Pemandi Agats, Sixtus Kusi kelas II SMP YPPK St. Yohanes Pemandi Agats, Eko Bostakai sekolah di SDI Semendoro dan Yuvensius Bostakai juga di SD Inpres Semendoro. Selamat jalan guru setia yang mengabdi bagi masyarakat Kampung Semendoro dan Airo, Distrik Safan, Kabupaten Asmat. (Sapa)

 
Copyright © 2017 - Pemerintah Kabupaten Asmat