Pertumbuhan Ekonomi
Kesejahteraan Ekonomi
Karakteristik kesejahteraan masyarakat dari perspektif ekonomi Kabupaten Asmat dapat tergambar dan diukur sekurang-kurangnya dari beberapa indikator- indikator seperti Laju Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Kemiskinan, PDRB PerKapita, Tingkat Pengangguran Terbuka, Indeks Gini, Indeks Modal Manusia/Indeks Pembangunan Manusia dan indikator lainnya sesuai konteks daerah. Dalam menarasikan agar dikorelasikan satu indikator dengan indikator lainnya sehingga dapat dipahami secara utuh dan lebih bermakna.
Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan di bidang ekonomi diukur dengan menggunakan indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yaitu total nilai tambah yang dihasilkan oleh masing masing lapangan usaha dalam satu wilayah dalam suatu waktu. Dari indikator PDRB di peroleh beberapa besarnya total penciptaan nilai tambah dengan harga berlaku dan harga konstan. Nilai PDRB ADHB dimanfaatkan untuk melihat struktur perekonomian sedangkan PDRB ADHK digunakan untuk men gukur laju pertumbuhan ekonomi.
Sesuai Data Statistik Kabupaten Asmat yang dilaporkan oleh BPS tahu 2024, mengambarkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat diperlihatkan melalui gambar berikut :

Kondisi diatas, menunjukkan bahwa Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat mengalami percepatan dari tahun sebelumnya sebesar 5,09 persen menjadi 6,06 persen pada tahun 2023. Selanjutnya sector-sektor yang memicu laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat ditampakan sebagai berikut:

PDRB ADHB tahun 2023 sebesar 3,145 triliun rupiah sedangkan PDRB harga konstannya sebesar 1,742 triliun rupiah. Lapangan usaha yang memberikan share terbesar terhadap PDRB Kabupaten Asmat adalah konstruksi; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; dan pertanian, kehutanan, dan perikanan, berturut-turut dengan jumlah sebesar 33,93 persen; 20,96 persen; dan 16,17 persen.
Gambar berikut menunjukan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Asmat diantara Provinsi Papua Selatan dan Nasional:

Kondisi stas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten asmat meskipun tren pertumbuhanya fluktuatif tetapi selalu postif setiap tahun. Pertumbuhan tertinggi tercatat tahun 2023 sebesar 6,06% melampaui pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua, Papa Selatan dan Nasional. Sebaliknya pertumbuhan rendah di Tahun 2020, sebesar 0,59&. Hal ini disebabka adanya Wabah Covid 19 yang melanda dunia, berpengrah pada pertumbuhan ekonomi baik daerah, provinsi maupun nasional.
Sistem Mata Pencaharian dan Ekonomi
Orang Asmat sebagai kelompok suku yang mendiami zona ekologis rawa bakau dan aliran sungai di tanah Papua mata pencaharian pokok mereka adalah Meramu sagu. Selain meramu sagu merupakan mata pencaharian pokok penduduk, mereka juga melakukan aktivitas berburu, dan mencari ikan di laut dan sungai di sekitar kampung. Jenis jenis hasil alam yang biasanya dimanfaatkan oleh suku asmat di kampung kampung adalah meliputi Kayu gaharu, rotan, kemiri, damar, kemenyan, kulit masohi, kulit lawang, cucut, udang, teripang, cumi-cumi, ikan, nipah, kerang, keong laut, kayu kuning, sagu, labu, ilalang, dsb. Setelah ada pemerintah pada jaman belanda sampai RI sebagian warga menggantungkan hidup dari gaji yang didapatkan sebagai pegawai negeri sipil walaupun memiliki dusun area meramu, pekerjaan lainnya seperti pemahat patung dan penarik ojek speedboad dan longboat sewaan. Memahat patung untuk kemudian dijual kepada pengunjung kota Agats adalah salah satu aktivitas mata pencaharian yang giat dilakukan cukup lama semenjak karya pahatan patung kayu berupa manusia, hewan, dan lain-lain telah beralih fungsi dan tidak lagi menjadi bagian dalam perlengkapan upacara-upacara religius di kalangan orang Asmat.
Orang Asmat menganggap Pohon sagu sebagai ibu, dimana sebagai ibu, sagu selalu memberikan kecukupan makan bagi mereka, sebagai makanan pokok penduduk biasanya diambil dan dikelola di dusun milik klen/marga yang terletak di sepanjang aliran sungai. Aktivitas meramu sagu biasanya dilakukan bersama-sama oleh satu atau lebih keluarga inti dan anak-anak selama beberapa hari di dusun. Dalam perjalanan menuju dusun kelompok peramu menggunakan sarana transportasi dari perahu panjang dan dayung. Pada saat sekarang ini ada saja penduduk yang menggunakan motor tempel untuk bepergian kedusun untuk meramu sagu. Di dusun kelompok peramu sagu biasanya menginap selama beberapa hari (sekitara 3-5 hari) pada pondok- pondok yang dibangun sambil mengumpulkan pati tepung sagu dan hasil buruan untuk dibawa pulang.
Dalam aktivitas meramu sagu baik laki-laki ataupun perempuan bekerja sesuai beban kerja yang telah ditentukan. Kelompok lakilaki biasanya bekerja menebang pohon, membelah batang sagu, sementara pekerjaan menokok/pangkur untuk mengeluarkan serat-serat (empulur) di dalam pokok pohon sagu dan meremas sagu dilakukan oleh perempuan. Proses untuk mendapatkan pati sagu dilakukan dengancara serat sagu diremas dengan bantuan air pada sarana tersendiri. Sarana proses pengambilan pati sagu terbuat dari pelepah pohon sagu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat mengalirkan air dan pati sagu kedalam wadah yang tersedia. Mereka juga menggunakan lembaran kasa dari pohon sagu ataupun kelapa sebagai penapis untuk memisahkan pati/ tepung sagu dari serat/empulur. Pada saat sekarang ini mereka banyak menggunakan kain kasa yang halus dan kuat sebagai penyaring. Pati sagu yang terpisahkan dari proses peramasan dibiarkan mengendap di dalam wadah penampung dari pelepahsagu. Pati yang telah mengeras karena mengendap diambil, diisi dalam wadah yang terbuat dari daun sagu dan selanjutnya dibawa pulang untuk dikonsumsi.
Dalam pekerjaan meramu sagu peralatan yang digunakan adalah kapak, parang, dan alat penokok/pangkur, noken dan karung. Selain meramu sagu kelompok peramu juga biasanya mengambil ulat sagu yang tertinggal dalam pokok pohon sagu yang ditebang dan dibiarkan membusuk. Demikian juga mereka akan mengambil hasil hutan lainnya seperti jenis-jenis sayuran, bumbu serta hasil kebun berupa ubi untuk dibawa pulang. Setelah beberapa hari di dusun mereka akan kembali pulang ke kampung dengan persediaan sagu untuk beberapa bulan kedepan. Rutinitas meramu sagu dilakukan terus-menerus mengikuti kebutuhan pokok penduduk. Hasil meramu sagu dan tumbuhan hutan yang didapatkan didusun keluarga biasanya dikonsumsi sendiri, dibagikan kepada kerabat atau tetangga dan sebagian dijual. Aktivitas berburu penduduk biasanya dilakukan sendiri dan juga bersama-sama dengan anak ataupun anggota kerabat lain. Aktivititas berburu dilakukan oleh kelompok laki-laki di sekitar wilayah dusun sagu dan hutan di sekitarnya. Di dalam melakukan perburuan terhadap binatang buruan mereka menggunakan panah dan tombak serta menangkap hewan buruan dengan menggunakan jerat. Aktivitas berburu biasanya dilakukan dapat lebih dari satu hari. Jenis-jenis hewan yang diburu adalah tikus hutan, kuskus, babi hutan, dan burung. Hasil buruan yang didapat dibawa pulang untuk dikonsumsi dan dijual.
Aktivitas mencari ikan dilakukan setiap hari dengan cara memancing dan menggunakan jaring. Beragam jenis ikan didapat dalam aktivitas ini, seperti ikan bobara, sejenis ikan lele, ikan pari, dan udang. Penduduk juga menangkap kepiting di rawa-rawa bakau sebagai sumber protein bagi keluarga. Dalam pekerjaan mencari ikan dan udang sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Peralatan yang digunakan dalam aktivitas menangkap ikan adalah jala, kail, nilon, dan lain-lain. Hasil kegiatan penangkapan ikan dikonsumsi sendiri dan dijual. Berkebun sangat minim dilakukan oleh penduduk asmat secara umum karena wilayah yang berawa sehingga tidak memungkinkan. Walaupun demikian sebagian penduduk memanfaatkan luas areal tanah yang dimiliki untuk menanam sejumlah tanaman seperti ubi kayu, pisang, rica, dan daun gatal. Kreativitas sejumlah warga kampung dalam memahat patung kayu dalam bentuk manusia dan hewan adalah bentuk pekerjaan yang cukup penting saat ini untuk mendapatkan penghasilan; apakah itu pada saat ada festival budaya asmat ataupun dapat di jual pada artshop di agast.
Kalau pada waktu lalu orang Asmat memahat patung sebagai perangkat dalam ritual-ritual religius dalam kehidupan di kampung, kini telah beralih menjadi nilai untuk mendapatkan penghasilan. Dalam konteks sensitif gender kegiatan ekonomi sehari-hari banyak dijalankan oleh perempuan terutama untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga. Perempuan dalam aktivitasnya bekerja memangkur sagu, menangkap ikan, udang, dan kepiting, mengumpulkan kayu bakar di hutan, serta menganyam atap rumah, mengasuh anak, dan mengolah makanan, mereka juga menganyam tikar (tapin). Laki-laki mengerjakan pekerjaan tertentu seperti, berburu, menebang dan membelah batang pohon sagu dalam aktivitas meramu sagu, membuat perahu baru, membangun rumah, dan memahat patung.






.png)
.png)
