Informasi

Konsep Pendidikan Harus Berbasis Budaya Setempat

Konsep Pendidikan Harus Berbasis Budaya Setempat

Kepala Badan Pengkajian dan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Asmat, Amatus Ndatipitj
 

ASMAT - Tokoh intelektual Asmat yang juga Kepala Badan Pengkajian dan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kabupaten Asmat, Amatus Ndatipitj, BA mengatakan konsep-konsep pendidikan yang mengarah pada masyarakat setempat bisa berpartisipasi aktif itu, konsepnya harus berbasis budaya setempat.

 

“Saya pernah menulis tentang itu ketika saya menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat,” katanya menjawab media ini ketika ditanyai seputar masalah pendidikan di wilayah Asmat yang masih mengisahkan berbagai kisah yang memprihatinkan, di Ruangan Kerjanya sebelum memimpin rapat koordinasi dengan SKPD dan Badan di lingkungan Pemda Asmat, Jum’at (27-1).

 

Dia mengisahkan dalam tradisi masyarakat Asmat,  apa yang disebut inisiasi dalam adat itu merupakan sejenis proses pendidikan. “Saya ambil contoh inisiasi soal disiplin pada waktu makan. Kita tidak boleh bicara atau kentut sekalipun tidak boleh. Inisiasi adat dalam hal strategi perang pun demikian. Kedisiplinan-kedisiplinan seperti itu pada masa lalu sangat kuat dalam kehidupan warga masyarakat Asmat. Filosofi-filosofi seperti ini tidak terintegrasi dalam proses pendidikan saat ini,” kisahnya.

 

Dikatakannya dalam perjalanan sejarah peradaban dalam lingkungan masyarakat Asmat,  ketika berkontak dengan Misionaris mulai mengenal dengan peradaban baru. Pada era Misionaris, pendekatan yang dilakukan mulai dengan pendekatan pendidikan berpola asrama.  Anak-anak yang dianggap memiliki kelebihan dari setiap kampung ditampung diasrama. Pendekataan pendidikan berpola asrama ini hasilnya lumayan. Karena, proses kedisiplinan dalam kebiasaan masyarakat setempat terintegrir dalam semangat kedisiplinan dalam kehidupan berpola asrama.  “Konsep ini memang harus dikembangkan lagi. Dan saat ini, Bupati dan Wakil Bupati sedang mengembangkan pendidikan di Asmat berpola asrama,” katanya.

 

Dikatakannya proses transformasi budaya dalam dunia pendidikan ini salah satu kuncinya tidak boleh mengeluh. Dia menyebutkan masalah kekurangan guru dikembangkan dengan sistim sekolah kecil di setiap kampung dan lanjutannya terpusat di Distrik dengan berpola asrama. Dan sekolah yang terpusat di Distrik harus ditunjang dengan fasilitas yang lengkap. Ia mencontohkan lapangan bermain, perpustakaan harus dilengkapi untuk menunjang proses belajar mengajar. “Saya kira itu bisa berjalan. Apa lagi, kalau guru-guru bisa menangkap proses melibatkan masyarakat setempat sesuai dengan budayanya. Itu pasti bisa berjalan dan masyarakat setempat bisa berpartisipasi,” katanya mencontohkan. (Sapa)

Copyright © 2017 - Pemerintah Kabupaten Asmat