Informasi

Bertobat dari Miras Takut Keluarga Hancur

Bertobat dari Miras Takut Keluarga Hancur

Ilustrasi

 

 

ASMAT – Koordinator kelompok pemabuk bertobat berhasil memberantas  pemabuk dan Minuman Keras (Miras), Longginus Biwar mengaku sadar dan bertobat, karena takut keluarganya hancur.  

 

“Saya dan teman-teman saya tidak akan pernah jatuh lagi kepada kebiasaan mabuk-mabukan. Karena, saya sadar akibatnya keluarga hancur dan tidak memiliki masa depan,” katanya didampingi rekan-rekannya, Marselinus Cimembai, Mikael Aimamits dan wakil Ketua Dewan Paroki St. Paulus Atsj, Donatus Dona Wawetan, di Dermaga OSC Atsj, Senin (27/2).

 

Dia mengaku kebiasaan buruk mabuk itu selain merugikan diri sendiri, keluarga dan warga sekitar. Pemabuk tidak akan memiliki masa depan yang baik. “Saya sadar ini tidak terlepas dari peran Pastor Eko dan Komunitas OSC di Atsj yang bisa bergaul dan memotivasi saya dan teman-teman,” akunya.

 

Senada dengan Biwar, Marselinus Cimembai yang berprofesi sebagai tukang senso kayu mengaku menyerahkan pisau iris segero kepada Pastor itu setelah sadar tidak mempunyai uang. “Saya ini tukang senso kayu. Uang begitu gampang dapat. Tetapi di rumah keluarga hancur dan tidak punya apa-apa. Maka ketika ada teman-teman yang sudah berhasil berhenti mabuk. Saya sadar dan menyerahkan pisau iris segero kepada pastor,” akunya.

 

Mikael Aimamits menyebutkan selain dirinya sadar. Ia juga berperan setiap malam bersama kelompok pemabuk yang bertobat ronda malam menangkap para pemabuk dan penjual Miras. “Kami tidak hanya menjadi kelompok pemabuk bertobat. Kami bersama 40 orang teman-teman yang bergabung dalam kelompok ini sudah masuk dalam kelompok Santo Paulus. Santo Paulus dalam kitab Suci khan sebelumnya juga dia orang tidak baik. Tetapi setelah bertobat baru dia menjadi pengikut Yesus dan mewartakan Injil kemana-mana. Maka kami dengan 40 orang lainnya sudah masuk dalam kelompok Santo Paulus,” tuturnya bangga.

 

Ia menjelaskan persyaratan masuk dalam kelompok Santo Paulus itu harus disumpah sampai mati tidak akan pernah menyentuh Miras lagi. “Kami sudah diberkati dan kami suda bersumpah secara agama Kristen dan adat kami sendiri. Sumpah dalam adat kami di sebut “dawir” melanggar “dawir” ya siap mati. Kami takut sekali mati cepat. Karena kami sudah disumpah secara agama dan adat,” jelasnya. 

 

Dari hasil pengamatan media ini selama empat malam berada dan berjalan-jalan di ibu kota Distrik Atsj tidak pernah menjumpai seorang pun yang mabuk. Dan warga masyarakat ketika berpapasan di jalan jembatan tidak ada yang beraroma Miras. 

 

Menyikapi situasi itu, Biwar mengatakan masih ada satu dua orang. “Ya situasinya memang berubah total pa. Tetapi kami masih bekerja terus kalau ada waktu ronda malam dan menunggu informasi dari rekan-rekan kelompok Santo Paulus ada yang mabuk. Kami langsung menuju rumah yang bersangkutan ditangkap dan dinasihati baik-baik supaya tidak mabuk,” akunya polos. (sapa)

Copyright © 2019 - Pemerintah Kabupaten Asmat