Informasi

Lanjutkan Sejarah Misi, Warnai Hidup Dengan Injil

Lanjutkan Sejarah Misi, Warnai Hidup Dengan Injil

Dari kiri Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos, Pdt. Ruben Amiyaram, S.Th, dan Pdt. Asyer Bahakap sedang memuji dan memuliakan Tuhan

 

 

ASMAT - Pdt. Ruben Amiyaram meminta seluruh jemaat Gereja Injil Di Indonesia mengenang sejarah tiga tokoh yang membawa Injil di tanah Sawi hanya dengan cara melanjutkan sejarah misionaris itu dengan mewarnai hidup sehari-hari dengan berpegang kuat pada Injil.

 

“Kita tidak bisa membalas apa yang dilakukan tiga tokoh itu. Saya hanya berharap kita semua mengenang mereka itu hanya dengan mewarnai hidup kita sehari-hari berpegang kuat pada Injil Tuhan kita Yesus Kistus,” harapnya ketika membacakan kilas balik dari sejarah singkat Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) pada Ulang Tahun (Ultah) ke 56 di depan Gereja GIDI Kamur, di Distrik Pantai Kasuari, Minggu (12-2) sore lalu.

 

Dia mengisahkan, Gereja Injili Di Indonesia wilayah pantai selatan, Kabupaten Asmat yang terdiri dari Klasis Sawi, Kokor, dan Asaib tahun 2017 ini merenungkan dan sekaligus mengucap syukur atas peradaban baru yang dilakukan para misionaris itu. Ketiga tokoh yang memulai menginjili di tanah Sawi sejak 1955 itu, dari Badan Misi UFM dan APCM, yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson dan Russel Bond. Mereka mengawali di Senggi, Distrik Senggi, Kabupaten Kerom saat ini dengan memulai membuka lapangan terbang pertama 1951-1954.

 

Lalu, ketiga misionaris itu, ia mengisahkan  bersama 7 pemuda dari Senggi terbang dari Sentani menuju Lembah Balim, tepatnya di Hitigima menggunakan pesawat amphibi “Sealander.” Mereka menyusuri wilayah Balim hingga tiba di Muara Sungai Kaliga (Hablifura) sampai menemui Danau Archold tertanggal 21 Februari 1955. Di Danau Archold, mereka membuat lapangan terbang dan mendirikan Camp Injili dengan visi “menyaksikan kasih Krsistus kepada segala suku Neaw Gunea,” yang bersumber pada Kisah Para Rasul 1:8. Dari sanalah, mereka mulai mengadakan survey hingga Bokondini 1 Mei 1955. Sejak itulah, mereka mulai resmi membuka pos UFM dan APCM di Bokondini sebagai basis penginjilan di seluruh pegunungan tengah. Hasil dari, mereka berkarya pertama itu 9 orang Kelila, 29 Juli 1962 dibaptis. Kesembilan orang itu sebagai sejarah awal GIDI mulai berkembang hingga kemudian sampai di Tanah Sawi.

 

Dari perjalanan panjang itu, 12 Juli 1962 seorang gadis cantik, Carol Soderstrom dan seorang pemuda perkasa, Don Richardson masuk di tanah Sawi memulai mengabarkan pewartaan Injil. Kemudian mereka menikah di Tanah Sawi dan meneruskan karya penginjilan di tanah yang sebelum mereka masuk itu, daerah ini masih terjadi perang suku atau pengayauan. Merekalah yang membawa perdamaian antar suku dan membawa keselamatan di daerah yang masih melekat kanibalisme dan pengayauan. Namun, kisah Ruben, Don dan Carol tidak pernah meragukan panggilan mereka. 

 

“Saya berharap mengapa Don dan Carol bisa menerangi daerah ini dengan Injil sementara kita sendiri masih lesu dan loyo. Mari momen ini kita bangkit bersama mewartakan kabar baik Yesus Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari,” harapnya menutupi membaca sejarah GIDI yang disambut tepuk tangan meriah warga jemaat. (Sapa)

Copyright © 2017 - Pemerintah Kabupaten Asmat