Informasi

Misteri Tali Speadboad, Berjuang Hidup Diujung Maut

Misteri Tali Speadboad, Berjuang Hidup Diujung Maut

Ilustrasi

 

“Pastor, saya tidak mampu lagi. Saya minta maaf. Relakan saya duluan! Kamu harus berjuang hidup sampai di darat. Supaya ada yang bisa memberitahu kejadian ini. Itulah detik-detik terakhir, kata-kata perpisahan  dari  Sr. Cecilia Kelbulan, TMM (61) tahun sebelum meregang nyawa. Walau, ia sudah dua hari menjelang dua malam bergumul melawan ombak, menahan dinginnya hujan dan merasakan pahit getirnya terombang-ambing dengan speadboad di lautan lepas, akibat mesinnya mogok,” tutur Pastor Siprianus Flori L Koten meniru ucapan Sr. Cecil yang selamat dari sengatan maut sesudah berjuang pula antara hidup atau mati bersama Sr. Hubertina Labok, TMM, di Kediaman Pastor-Pastor Proja, Agats, Kamis (2-2) lalu.

 

Sekitar dua ratusan lebih umat Katolik,  umat dari berbagai denominasi gereja Protestan, guru-guru SD, SMP, SMA, pegawai Pemda Asmat  dan tiga orang rekan sekomunitas Tarekat Maria Mediatrix (TMM) Agats, biarawan dan biarawati dari berbagai Konggregasi yang mengabdi di Keuskupan Agats tidak  mampu menahan isak tangis. Saat, mereka  menyaksikan Kepala Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) Roh Kudus  Bayun yang berstatus biarawati, Sr. Cecilia Kelbulan,TMM  (61) tahun terbujur kaku dalam sebuah kantong jenazah berwarna kuning  tiba di Komunitas TMM, Agats, Rabu (1-2) sore menjelang malam. Akibat kecelakaan laut yang berawal dari mesin motor speadboad yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok, disekitar Tanjung Bokap.  Ketika  mereka berlayar dari Bayun menuju Agats, Senin (31-1) siang.

 

Menurut Sipri yang mengemudikan Speadboad mengisahkan, tragedi yang menimpa Sr. Cecil itu buntut dari mesin motor mogok  dan  berujung pada ombak menghantam speadboad hingga terbalik malam kedua.  Walau, Sr. Cecil dan Sr. Labok, kata Sipri  sempat berusaha melawan maut dengan berusaha memegang tali speadboad, setelah terlempar dari terjangan ombak. Dia mengaku tidak mampu lagi melawan ombak dan menahan dingin seraya memeluk dan mencium Sr. Labok. “Pastor, saya tidak mampu lagi. Saya minta maaf. Saya duluan. Kamu berdua harus berjuang sampai ke darat,” tutur Sipri panggilan akrab Pastor Siprianus Flori L Tukan mengisahkan detik-detik terakhir Sr. Cecil berpisah dengan dirinya dan Sr. Labok dalam raungan ombak yang mengamuk, Selasa (31-1) malam. Dan sebelum, warga menemukan jenazahnya terdampar di bibir pantai antara Kampung Ocenep-Pirien, Kabupaten Asmat,  Rabu (1-2) siang.

 

Andaikan Sr. Cecil masih sekuat tenaga Pastor Sipri dan Sr. Labok memegang tali speadboad kisahnya berbeda. Misteri dibalik tali speadboad tentu hanya bisa diselami dengan kaca mata iman. Karena, bagaimana mungkin , ketika kita mengikuti kisah Pastor Sipri, tiga orang bergantung pada tali yang sama berjuang   melawan ombak bertopeng maut, talinya tidak putus dari speadboad. Ya, segala sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia memang, mungkin bagi Tuhan. Sebab, tali speadboad pula yang menyelamatkan Spri dan Sr. Labok hingga terdampar di daratan, Ocenep. Ikuti kisah selanjutnya.

 

Sipri mengisahkan kronologi kecelakaan laut itu bermula dari dirinya makan malam bersama di Komunitas TMM Bayun.  “Minggu malam, saya makan malam di Komunitas TMM Bayun bersama suster Cecil dan suter Labok. Suster Cecil meminta saya menghantar dia dan Suster Labok ke Agats untuk mengantar data anak-anak sekolah dan data anak kelas enam yang mau mengikuti ujian nanti ke dinas. Saya menolak. Saya bilang suster tidak bisa besok.  Laut masih cuaca buruk. Dia mendesak saya. Pastor tolong penting sekali. Jadi saya selain ke dinas, juga ada kepentingan di Komunitas TMM Agats,” tutur Sipri meniru ucapan Sr. Cecil.

 

Senin (30-1) pagi,  Sipri menceriterakan,  berlayarlah dari Bayun  kurang lebih sekitar pukul 07.15 Wit lewat. Sungai dan laut teduh sekali sampai di Tanjung Bokap arah barat daya Kota Agats,  tinggal beberapa menit lagi  merapat di Agats, tiba-tiba mesin mati. “Saya berusaha membuka mesin motor bermerek Merkuri 45 PK dan membersihkan karburatornya. Perkiraan saya mesin kemasukan air laut.  Saya berusaha menghidupkan mesin speadboad itu tidak bisa hidup. Saya perhatikan, kami sudah terseret arus sampai  laut biru. Kami berusaha  bergantian mendayung dari sekitar pukul 12.00 Wit siang sampai sekitar pukul 16.00 wit sore. Saya perhatikan bukan mendekat ke darat,  malah semakin jauh ke lautan lepas. Saat itu, saya minta suster Labok dan Cecil bersama-sama berdoa penyerahan hidup kepada kerahiman Ilahi.  Diujung doa, saya memeluk mereka berdua sambil memberkati mereka.  Dan saya meminta mereka berdoa terus suster. Karena, saya merasakan ombak semakin  mengamuk dan perasaan saya arus  menghantam speadboad yang kami tumpang sudah mengarah ke Wanam, Merauke,” katanya mengisahkan.

 

Diujung senja, Senin (30-1) itu, ombak semakin mengamuk. “Saya merasa harapan hidup kami semakin menipis dan berada diujung maut. Namun, saya berusaha tidak memperlihatkan perasaan putus asa sambil meyakinkan Sr.  Cecil dan Sr. Labok.  Saya sampaikan tidak akan terjadi apa-apa dan pasti kita selamat.  Lalu, saya meski  orang berdosa, tetapi tangan saya sudah diurapi. Saya berdiri memberkati laut dan lautpun teduh hingga menemui pagi,  Selasa (31-1) hingga sore menjelang malam.  Dikegelapan malam, saya sempat melihat ada lampu mercusuar. Saya perkirakan, itu mercusuar diantara Atj dan Basim. Itu berarti ombak menghantam kami ke arah  Atj dan Basim,” tuturnya.

 

Dia mengaku  tenaga sudah terkuras mendayung spead hari pertama dan diombang-ambing ombak semakin lelah bercampur lapar. Akibat  tidak ada makanan dan haus, karena  setetes airpun tidak ada. Beruntung hujan lebat turun. Sr. Cecil menadah hujan dengan gayung timba air speadboad. Haus terobati dan mendapat kekuatan baru memegang speadboad yang diaduk-aduk ombak malam itu. 

 

Ia menyebutkan, sekitar pukul. 23.00 lebih malam itu hujan dan ombak mulai mengamuk. Itu diperkirakan posisi  dari arah Primapun ke arah Ocenep Pirien kalau kita berhitung dari tempat dimana kami terdampar dan jenazah Sr. Cecil terdampar pula  dipinggir pantai Ocenep-Piren. “Saya sempat sok. Hujan tidak berhenti, ombak mengamuk. Saya sempat minta Sr. Labok berusaha mengambil minyak suci yang saya taruh biasanya dalam noken ditempatkan diujung depan bawah speadboad,  supaya terhindari dari kehujanan dan basah dari air laut. Maksud saya sebelum kami mati sudah terurapi minyak suci. Namun, Sr. Labok tidak bisa mengambil  akibat  berusaha menahan olengan speadboad yang diterjang ombak,” kisahnya. 

  

Beberapa menit berselang malapetaka tiba, Speadboad terbalik akibat terpaan ombak, kurang lebih sekitar pukul. 23.00 wit lebih. “Saya terlempar dan suster Cecil dan Labok entah kemana. Saya berenang  mencari mereka ditengah kegelapan. Bersyukur, mereka berdua  terlempar tidak jauh dari arah speadboad berada. Dan saya melihat mereka berenang menuju ke arah speadboad. Sampai dekat speadboad, saya minta mereka pegang kuat dibagian besi pada permukaan atas speadboad sambil memegang tali speadboad.    Supaya mereka tidak mudah terhempas ombak. Entah berapa kali, kami bergulat dan terlempar dari speadboad sebelum Sr. Cecil menyerah akibat tidak mampu lagi menahan ombak dan dingin,” tuturnya. 

 

Dia menyampakan sambil meniru pernyataan Sr. Cecil : ”Pastor saya sudah tidak kuat lagi.  Saya minta maaf. Pastor dan suter relakan saya duluan. Kamu harus berjuang sampai menemui daratan sambil memeluk dan mencium suster Labok. Saya berusaha mengangkat dan menaruh ke punggung speadboad tidak berhasil, karena ombak tiba-tiba kipas dan kami terlempar. Saya tidak tahu suster Labok dan Cecil terlempar kemana. Hanya saya berharap dia terlempar kedalam speadboad. Saya tidak berpikir lagi suster Cecil hanya berjuang mencari suster Labok dan dapat. Saya menarik tangannya dan diikat dengan tali speadboad. Karena, Suster labok juga sudah bilang, Pastor saya juga sudah tidak kuat lagi. Itulah yang membuat tangannya suster Labok itu bengkak.” ujarnya.  

 

 Dia menuturkan, setelah dia berhasil mengikat tangan Sr. Labok. Dia berpikir kalaupun hidup atau pun mati harus bersama-sama dengan Suster labok. “Saya ingat! Saya merasa mendapat kekuatan baru.  Ketika saya merenung harapan  Suster Cecil berharap saya dan suster Labok bisa menemui daratan. Betul! Setelah saya dan Suster Labok bergulat dengan ombak sambil memegang tali speadboad sekian jam. Saya merasa mata saya pedis dan terasa butiran pasir masuk ke dalam mata. Saya mengusap mata dan melihat air kabur. Saya merasa kami sudah dekat pinggir pantai. Saya berteriak.  Suster!  Suster coba turun kaki. Dia bilang belum Pastor. Saya berusaha menurunkan kaki menemui lumpur. Saya melepas tali speadboad dan melompat, kaki tertanam dalam lumpur. Ombak meski menghempas saya tidak bisa terseret lagi, karena kaki tertanam dalam lumpur. Lalu, saya berteriak minta suster Labok melompat dan dia berhasil lompat.  Saya berharap suster Cecil berada dalam speadboad,” tuturnya lagi.

 

Dia mengaku sambil merayap badan menaiki pohon,  itu sekitar pukul 02.00 wit, Rabu (1-2) subuh. “Saya bilang suster Labok memegang kaki saya supaya kuat merayap menuju ke pohon yang berada dipinggir pantai itu. Lalu, saya meminta dia naik di atas pohon dan kami bermalam di atas pohon. Karena, saya tidak tahu kami terdampar dimana. Saya kuatir kalau berani berjalan melintasi hutan rawa malam itu. Saya berpikir sudah berhasil dari maut di laut malah masuk dimulut buaya. Saya berpikir dan mengambil keputusan bermalam di atas pohon menanti pagi, Rabu (1-2).

 

Rabu pagi, dia mengisahkan bersama Sr. Labok Turun dari pohon melintasi hutan rawa sambil memakan bia mentah dan keraka mentah mengisi perut seraya mencari air rawa melepaskan dahaga. Setelah, ia dan Sr. Labok menyusuri hutan rawa sepanjang bibir pantai itu. Dari kejauhan ia melihat seorang bapa dan istrinya sedang mendayung perahu. “Kontan saya berpikir kami masih berada disekitar wilayah Asmat, itu model perahu Asmat. Kami berusaha mendekati perahu sambil memanggil bapa dan ibu itu merapat. Bapa ini dimana?” Bapa itu bilang:  “Ini Ocenep Pirien,” jawabnya sambil bertanya balik: “Kamu sipa?”, tanyanya. “Saya jawab. Saya Pastor Sipri, Pastor Paroki Bayun dan ini Sr. Labok, kami kecelakaan dilaut,” tuturnya.

 

Lantas, Bapa dan mama itu memberi  dua buah sagu bola dan ikan bakar. “Saya makan sambil meminta mereka memberi tahu kejadian itu ke Pastor Bavo, Pr di Basim dan mereka setuju. Lalu, saya dan Suster Labok menuju ke sebuah Bevak yang tidak jauh dari tempat itu beristirahat menunggu Pastor Bavo,Pr.”

 

Tidak lama berselang, warga masyarakat dari Ocenep tiba setelah mendapat kabar Pastor dan Suster kecelakaan. “Saya meminta mereka bersama-sama mencari Sr. Cecil dan Speadboad. Karena saya yakin Sr. Cecil juga terdampar tidak jauh dimana kami terdampar. Kami menjumpai speadboad terlebih dahulu. Saya minta warga yang lain berusaha membalikan speadboad dengan harapan Sr. Cecil berada dalam speadboad yang terbalik itu. Sementara kami berusaha membalikan speadboad, warga yang lain melihat jenazah Sr. Cecil terdampar di pohon yang tidak terlalu jauh juga dari Speadboad terdampar. Saya bersyukur, Suster Cecil selalu bersama saya dan suster Labok. Walau dia sudah tiada,” katanya seraya berkata: “Saya sempat tidak percaya bahwa Tuhan itu tidak adil. Tetapi, setelah saya merenung kembali ketika Sr. Cecil jenazahnya ada tidak jauh dari saya dan Sr. Labok dan pergulatan kami selama di laut. Saya rindu selalu berada dalam genggaman tangan-Nya.”

 

Sekitar pukul 12.00 Wit, Pastor. Bavo Pr dan seorang dokter  tiba di tempat kejadian perkara. Lalu, masyarakat bersama-sama membungkus jenazah Sr. Cecil dengan kantong plastik berwarna kuning dan memasukan dalam spead menuju Bayun untuk dimandikan, sebelum selanjutnya dihantar ke Agats. Sementara, Jenazah Suster Cecil dimandikan di Bayun, imformasi tentang kejadian itu mulai menyebar melalui  Radio dan HT dan diterima  Pemerintah Daerah (Pemda) Asmat.

 

Menurut pengakuan Pastor. Hendrik Hada, Pr, ia menghubungi Kabag Humas Pemda Asmat, Markus Tenauw, S.Sos. “Saya setelah mendapat informasi itu bahwa jenzah Sr. Cecil sedang dimandikan di Bayun. Saya meminta Bapak Markus Tenauw bagaimana caranya menjemput jenzah Sr. Cecil.  Dari balik selulernya beliau mengaku siap menjemput dan kebetulan speadboad Pemda Asmat sedang mengantar jenazah juga ke Bayun,” katanya.

 

Senada dengan pernyataan Pastor Hendrik Hada,Pr, Kabag Humas Pemda Asmat, Markus Tenauw, S. Sos mengaku menghubungi driver yang mengantar jenazah warga masyarakat Bayun, diperintahkan  balik menjemput jenazah Sr. Cecil. “Spead kami sudah balik dari Bayun antar jenazah. Tetapi saya minta dia balik menjemput jenazah Sr. Cecil di Bayun hingga jenazah Sr. Cecil tiba  di Agats sore menjelang malam, Rabu (1-3).  

 

Dari pengamatan media ini, ribuan warga masyarakat Kota Agats dan pegawai Pemda Asmat bertumpah ruah di Pelabuhan Ferry Asmat menunggu dan menghantar Jenazah Sr. Cecil ke Biara TMM Agats sebelum disemayamkan di Kapel Keuskupan Agats dan dikebumikan Jum’at (3-2) sore di belakang Geraja Katedral  Salib Suci Agats. 

 

Diketahui, Sr. Cecilia Kelbulan, TMM,  lahir di Meyano, Maluku Tenggara Barat, 4 Agustus 1955 dari keluarga petani bersehaja dan anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia mengikuti jejak Yesus dalam Tarekat Maria Mediatrix  sejak dari 3 Januari 1979 hingga mengikrarkan kaul pertama 8 Desember 1982 dengan motto hidupnya: “Aku Ini Hamba Tuhan, Terjadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu.”  Dan ia mengikrarkan kaul kekal sebagai anggota seumur hidup dalam Tarekat Maria Mediatrix 8 Desember 1988 dan pesta perak , 8 Desember 2006 genap 25 tahun hidup membiara. Ia menghabiskan seluruh hidup dan pengabdiannya di bidang pendidikan dan sebagai kepala Asrama Putri di Papua, antara lain di Manokwari, Bintuni, Fak-Fak dan Agats hingga tutup usia masih menjabat Kepala SD YPPK Roh Kudus Bayun di usia 61 tahun. Selamat Jalan Suster Cecil doa kami menyertaimu. (Sapa)  

Copyright © 2017 - Pemerintah Kabupaten Asmat